Selasa, 02 Desember 2014

Berlebihan?



Cinta ya? Cinta itu yang ketika lo berada deket sama dia waktu berasa jadi cepet banget kan? Iya nggak sih? Ato yang bikin wajah kita berseri setiap hari? Ato apa?
Gue pernah jatuh cinta, tapi cinta gue bertepuk sebelah tangan. Bukan, bukan karna dia mengabaikan gue. Tapi lebih tepatnya, gue yang nggak punya nyali buat deketin dia. Pernah ngerasain rasanya bertepuk sebelah tangan? Pasti yang lo rasain menyedihkan banget, sama kayak yang dulu pernah gue rasain. Cinta tuh ngebuat gue jadi lebay. Cepet nangis, cepet seneng, cepet ketawa, cepet bahagia. Segalanya. Gue diajarin seseorang untuk mencintai dengan sewajarnya. Namun ketika kita jatuh cinta, lebih tepatnya ketika gue yang jatuh cinta, gue nggak bisa bertingkah sewajarnya. Apalagi mencintai sewajarnya. Nggak. Akan. Pernah. Bisa.
Tapi gue lagi-lagi mikir sebagai seorang mahasiswa baru, yang kelakuannya kadang masih suka absurd dan nggak jelas. Bahwa mencintai tak lagi penting. Yang penting adalah proses mencintai. Ketika cinta hilang, kita juga dituntut untuk melepaskan. Sebenerya kalo kita mau berpikir positif tuh, rasanya nggak kayak kopi yang pahit-pahit bangetlah. Asal kita mikir masih ada gula ato krimmer, yaitu keluarga, sahabat, teman yang selalu ada buat kita. Jadi rasa kopi yang kita minum juga nggak bakal pahit-pahit amat kok. Setidaknya masih ada rasa manis dari indahnya persahabatan dan rasa krimmer dari enaknya sebuah keluarga. Dan kalo kata Jebraw, “itu baru pecah mennnn!!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar