Jumat, 23 Mei 2014

Kesetiaan?




Kali ini gue nongton sebuah drama Korea untuk yang kesekian kalinya. Judulnya gue lupa. Yang jelas dia alien yang tinggal di bumi selama ±400 tahun.  Dan dia ketemu seorang aktris yang dulunya mirip kek cinta pertama dia di masa lalu. Tapi gue nggak mau ngomongin tentang pemeran utamanya. Gue mau ngomongin seorang cowok di film itu yang bernama Hui Kyeong. Ah, dari dulu gue emang suka sama pemeran yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Rasanya tuh kita kayak bersimpati dan merasakan hal yang sama yang dirasain pemeran tersebut.
Hui Kyeong udah mencintai aktris itu selama 15 tahun, dia juga yang nyuruh bokapnya(pengusaha agensi terkenal di Korea) untuk menjadikannya artis manajemen perusahaannya. Awalnya gue pikir, “Paling nanti tuh cowok ngikhlasin ceweknya sama orang lain. Kebaca banget.”
Tapi ini beda, saat ceweknya kecelakaan pas syuting dia nolongin ceweknya dan ikut kritis bersama sang cewek di rumah sakit. Ia juga meminta Ayahnya untuk membuat agensi hanya untuk aktris itu seorang. Karena kebetulan pada saat itu karier sang cewek lagi hancur-hancurnya. Dia tetep keukeuh mohon sama Ayahnya.
Padahal, disisi lain, sahabat cewek itu juga sangat mencintainya. Tapi ia menolak secara halus dan memintanya untuk melupakan dirinya. Gue bilang nih cowok bego, cewek cantik kayak gitu dianggurin gara-gara aktris yang jelas-jelas mengabaikan dia selama 15 tahun. Dan aktrisnya malah suka sama alien lagi. Gila nggak tuh?
Sekali lagi, gue nggak pengen ngejelek-jelekin si aktris ama si alien. Gue Cuma bersimpati sama Hui Kyeong. Saat tau kakaknya pengen nyelakain si aktris, Hui Kyeong justru apa? Ngelindungin tuh aktris dan ngebiarin keluarganya ancur. At least, gue sadar kalo kebenaran itu harus diungkap. Tapi gue sebel, kenapa dia LEE HUI KYEONG seperti malaikat penjaganya aktris itu?
Merasakan rasanya ditolak selama 15 tahun oleh perempuan yang sangat ia cintai, apakah nggak kayak orang bego? Huft, ok, gue terlalu berlebihan dalam menanggapi masalah ini. ini Cuma drama, ngapain sewot?
Tapi, dari drama ini gue belajar banyak hal, terutama tentang kesetiaan. Gila men, 15 tahun? Ada nggak cowok yang ngejar-ngejar cewek selama itu dan rela ngelakuin apa aja demi dia? Langka, nyaris nggak ada. Dari dulu gue paling suka ngeliat burung merpati, identik dengan kesetiaan, prinsipnya hanya ada satu betina. Beda dengan manusia, mereka cenderung berpikir kalau masa muda harus dinikmatin. Kalau udah dewasa, baru deh nyari wanita yang baik-baik. Gue nggak bilang semua cowok begitu. Dan gue juga nggak akan doain hal itu terjadi. Gue hanya berharap, semoga masih ada Lee Hui Kyeong lainnya di dunia ini. :)


Jumat, 14 Februari 2014

Malaikat Tanpa Sayap... Bergelar Sahabat :))



                Hari ini, gue kembali mikir, saat orang-orang yang gue kasihi mendadak jauh dari hidup gue. Gue merasa mereka berubah, mengapa mereka berubah jika mereka masih bisa tetap sama? Kenapa? Kadang, pertanyaan itu sering muncul di benak gue. Untuk apa mereka berubah? Kenapa mereka nggak sejalan lagi sama gue? Kenapa mereka nggak seasik dulu? Kenapa mereka nggak mengerti posisi gue?
                Sering banget pertanyaan berkecamuk di kepala gue. Gue mikirin mereka, hari ini apa kabar mereka? Apa mereka baik-baik aja sama cowoknya? Apa mereka punya masalah? Apa mereka rukun sama temen-temennya? Apa mereka udah ngelupain gue?
                Sering banget gue emosi karena gue ngerasa mereka udah berubah. Mereka bedain gue, mereka nggak ngaggep gue. Gue seperti diabaikan. Tapi, kenapa gue nggak coba buat mengerti mereka? Mungkin gue bukan orang yang selalu ngerti. Tapi percayalah, gue selalu berdoa buat malaikat tanpa sayap bergelar sahabat seperti kalian.
                Gue selalu pengen lo ngerti bahwa gue ada dan akan selalu ada. Jangan ragu buat manggil gue. Jangan ragu buat minta tolong sama gue. Karena itulah gunanya sahabat kan? Kita ada untuk saling mengisi dan mengasihi. Gue berharap lo berpikiran yang sama tentang apa yang gue tulis saat ini. Makasih udah mau jadi sahabat seorang pengecut macem gue ini, makasih udah mau jadi sahabat cewek emosian ini. Lo semua tetep the best bagi gue :’)
“Kasih itu emang bukan cuma bilang dia sahabat gue, tapi bilang gue mau berjuang buat bikin dia bahagia.”

Langit mulai cerah, tak bisakah kita terus melangkah?
Yang kubutuh hanya tanganmu yang menopangku
Yang kubutuh hanya kasihmu yang selalu menyertaiku
Sahabat,
Bisakah kau berbalik dan kembali menatapku?
Aku disini, masih, dan masih terus menunggumu
Aku menunggu tawamu
Aku rindu pundakmu
Aku terbelenggu oleh hangatnya rengkuhan yang selalu kau torehkan padaku
Aku rindu saat engkau mengejekku
Aku rindu saat kau masih tetap setia di sampingku
Dan, kini..
Bisakah kau kembali?
Menata hati yang telah kosong setelah kau tinggal pergi

Untuk Malaikat Tanpa Sayap bergelar Sahabat:
Silmi Diena Auliya
Yesita Geradin
Woro Ayuningtyas
Adibah Alfasyanah
Nabila Nurjannah
Agil Tianna
Rushartina Megawati

Sabtu, 08 Februari 2014

Puisi Tentang Kamu...



Sedikit kisah puisi yang gue tulis bersama teman sebangku gue yang bernama Mery Wulandari. Saat semua sibuk bahas soal PM Bahasa Indonesia, gue yang emang lagi boring, iseng nulis puisi. Eh, ojol-ojol Mery malah ikut-ikut nambahin. Tapi gapapalah, puisi yang gue buat jadi tambah hidup. Gue mengucapkan banyak terimakasih kepada sohib sebangku gue, untuk tahun-tahun yang menyenangkan di akhir masa putih abu-abu ini. Gue juga mau bilang terima kasih, buat orang yang ngasih gue inspirasi. Maklum, gini nih nggak enaknya jadi secret admirer gini salah, gitu salah. Mungkin lebih tepatnya cinta bertepuk sebelah tangan *okeiniterlaluhoam* curcol mele hidup gueeee :D langsung aja liat puisinya ya...
Memujamu seperti orang bodoh
Aku memiliki akal ‘tuk tahu itu
Mengharapkanmu seperti orang tolol
Aku bukan pungguk merindukan bulan
Tapi apa yang bisa kucapai?
Tapi tak bisakah kau tengok aku?
Apa yang bisa kuraih?
Yang selalu melihat padamu walau jauh?
Tak sekalipun dirimu melihatku
Bahkan saat aku tersesat di hatimu
Kau abaikan hati ini
Seperti Dandelion yang tertiup angin
Kau acuhkan perasaan ini
Seperti hujan menghapus jejak
Kau buat hatiku tersakiti untuk kesekian kali
Kau hujam hatiku dengan semua tingkah lakumu
Kini, yang kubutuh hanya kembali menata hati
‘Tuk kembali yakin pada cinta yang sejati

Saturday, January 8th 2014
Created by: Rivani Vinola Dewi Sianturi & Mery Wulandari

Jumat, 31 Januari 2014

Beda Keyakinan...



Kali ini gue bakal sedikit bahas tentang hubungan beda agama. Gue pernah ngalamin hal itu dan saat itu gue bener-bener ngerasa sedikit bodoh. Waktu itu, gue pernah dekeeeet banget sama seorang cowok, kalo nggak salah sekitar 6 tahun yang lalu. Tuh cowok beda selisih 3 tahun sama gue. Tapi, saat itu gue nganggep semua orang sebagai temen gue, jadi saat gue deket sama dia ya gue anggep biasa. Tapi, keadaan berubah saat negara api menyerang (okeinihoam) *abaikan* yap, temen-temen cewek gue ternyata suka sama dia. Dan, mereka marah sama gue yang terlampau deket banget sama cowok itu.
            Gue dulu mungkin masih berumur 10/11 tahun. Dan yang gue tahu Cuma main sama temen-temen. Jadi, saat mereka marah, gue mutusin untuk lebih milih mereka dibanding cowok itu. Sampe akhirnya cowok itu juga ikut menjauh dan mulai menjaga jarak. Saat itu, gue baru ngerasain yang namanya kehilangan. Gue nggak tau kenapa, saat dia ngejauh juga entah kenapa hati ini justru perih. Tapi, lagi-lagi karna kepolosan gue waktu itu, gue mengabaikan perasaan gue..
            Tapi karena gue udah nggak tahan, gue putuskan buat nanya sama sahabat deket cowok itu. Tapi dia malah ngomong, “gue yakin dia suka sama lo… Kalo aja lo sama dia nggak beda agama.” Saat itu gue mulai mikir dia ngejauh dari gue karena emang kita beda keyakinan. Kita nggak sejalan. Lagi-lagi, gue harus ngomong bahwa semuanya baik-baik aja. Semuanya hanya proses pembelajaran menuju kedewasaan.
            Gue juga mulai sadar bahwa ini mungkin hanya cinta monyet yang sering dibilang sama orang-orang. Dia cuma jadi masa lalu gue. Kenangan gue tentang betapa manisnya masa-masa itu dulu.

Ada sedikit lirik lagu buat lo “Percayalah kasih, cinta tak harus memiliki. Walau kau dengannya, namun kuyakin hatimu untukku.”