Sedikit kisah puisi yang gue tulis bersama teman sebangku gue
yang bernama Mery Wulandari. Saat semua sibuk bahas soal PM Bahasa Indonesia,
gue yang emang lagi boring, iseng nulis puisi. Eh, ojol-ojol Mery malah
ikut-ikut nambahin. Tapi gapapalah, puisi yang gue buat jadi tambah hidup. Gue
mengucapkan banyak terimakasih kepada sohib sebangku gue, untuk tahun-tahun
yang menyenangkan di akhir masa putih abu-abu ini. Gue juga mau bilang terima
kasih, buat orang yang ngasih gue inspirasi. Maklum, gini nih nggak enaknya
jadi secret admirer gini salah, gitu
salah. Mungkin lebih tepatnya cinta bertepuk sebelah tangan *okeiniterlaluhoam*
curcol mele hidup gueeee :D langsung aja liat puisinya ya...
Memujamu
seperti orang bodoh
Aku memiliki akal ‘tuk tahu itu
Mengharapkanmu
seperti orang tolol
Aku bukan pungguk merindukan bulan
Tapi
apa yang bisa kucapai?
Tapi tak bisakah kau tengok aku?
Apa
yang bisa kuraih?
Yang selalu melihat padamu walau jauh?
Tak
sekalipun dirimu melihatku
Bahkan saat aku tersesat di hatimu
Kau
abaikan hati ini
Seperti Dandelion yang tertiup angin
Kau
acuhkan perasaan ini
Seperti hujan menghapus jejak
Kau
buat hatiku tersakiti untuk kesekian kali
Kau hujam hatiku dengan semua tingkah lakumu
Kini,
yang kubutuh hanya kembali menata hati
‘Tuk kembali yakin pada cinta yang sejati
Saturday, January 8th 2014
Created by: Rivani Vinola Dewi Sianturi & Mery Wulandari
iya nih cieee yang galau pas bahasa indonesia....
BalasHapustapi ternyata bagus juga ya padahal ane aja gak inget lagi mikir apa pas nulis ntuh tambahan puisi hehe