Senin, 22 Januari 2018

Rest in Peace, Kim Jonghyun (Skeleton Flowers)

Sepertinya langit akan berbahagia. Seseorang manusia yang sangat baik telah pergi untuk menemani langit yang selalu abu-abu, selalu kesepian.

SHINee tetap akan terus bersinar, mereka tidak kehilangan satu member. Member tersebut tetap ada, di atas langit sana. Member itu, Kim Jonghyun.

Seseorang idol yang mengalami depresi berat, seseorang yang terlihat selalu tersenyum menghibur semua orang itu akhirnya pernah sekali melakukan ke”egois”an dalam dirinya untuk pergi dari dunia ini.

Jujur, saya bukan penggemar SHINee, saya hanya tahu beberapa lagu SHINee yaitu Replay dan Ring Ding Dong. Dan menurut saya musiknya seru, namun masih terkesan biasa saja buat saya. Karna pada saat itu bias saya hanyalah Yesung seorang. Saat saya melihat SHINee, saya hanya menghapal dua member di dalamnya, Minho berkat ketampanannya serta Jonghyun berkat suaranya yang teramat bagus dan wajahnya yang terkesan bukan seperti wajah orang Korea pada umumnya, terlihat aneh kalau saya boleh jujur.

Sampai pada tahun 2016, saat saya memutar lagu di youtube tiba-tiba terputar sebuah lagu Lee Hi yang berjudul Breathe yang membuat saya jatuh cinta dengan musiknya dan lantas mencari translate lagunya. Apa yang saya temukan? Arti lagunya membuat saya menangis, sungguh. Ketika kamu melakukan kesalahan atau melakukan hal-hal bodoh dan gagal dalam hidupmu, ketika kamu mendengarkan lagu tersebut secara ajaib kamu akan bernapas dan merasa lebih baik dari sebelumnya. Sungguh.

Lalu kemudian saya menemukan fakta lain, bahwa lagu itu dibuat oleh seseorang yang tak pernah saya sangka sebelumnya, seseorang yang dari luar terlihat kuat, lucu, dan blak-blakan. Ya, seperti yang kita tahu, Jonghyun pengarangnya. Lalu kemudian saya mendengar lagunya yang berjudul End of The Day, lagu sama yang membuat saya menangis. Lalu saya mulai mendengarkan albumnya mulai dari album Base sampai Story Op.1 yang membuat saya makin jatuh hati terhadap music dan setiap karyanya. Kemudian saya mengetahui bahwa ia sangat senang sekali membaca, ia menyukai Demian karya Herman Hesse, metamorphosis karya Franz Kafka, sampai Dunia Kafka karya Haruki Murakami. Saya merasa terhubung dengannya. Sangat jarang seorang idol membaca buku dengan segala kesibukannya. Tapi hal itu sudah Jonghyun lakukan semenjak ia kecil, ia senang membaca. Kemudian Ia menulis sebuah tweet di twitternya, sebuah puisi yang membuat saya yakin suatu saat Jonghyun pasti akan menjadi penulis, dan benar ia mengeluarkan buku yang dia tulis di sela-sela waktu sibuknya. Skeleton Flowers. Sebuah bunga yang indah ia jadikan perumpamaan dalam bukunya. Dulu, saya pernah bermimpi untuk membeli buku Jonghyun ketika versi Englishnya telah rilis dan meminta tanda tangannya saat fansign suatu saat nanti. Namun mimpi tetaplah mimpi, sampai saat terakhirpun saya tak akan pernah bisa merealisasikan mimpi tersebut. Dia telah tiada. Terkadang mengingat hal itu membuat leher saya seperti tercekik.

Jonghyun yang selalu menjadi orang yang selalu ada bagi orang-orang sekitarnya, Bagi Key, bagi Taemin, bagi Minho, bahkan bagi Onew. Jonghyun sang penulis lagu di Shinee dari mulai Juliette yang saya gemari sampai View lagu EDM yang membuat saya terpana. Jonghyun yang hatinya selalu lembut, bayangkan saja ketika pertama kali debut, saat ia turun ia menangis. Ia menangis memikirkan betapa banyak orang-orang yang membantunya untuk mencapai mimpinya menjadi seorang penyanyi. Walau yang kutahu cita-citanya adalah menjadi seorang composer. Dan menurutku ia bisa mencapai cita-citanya untuk menjadi seorang composer berkat dirinya berkecimpung di dunia idol. Disaat SM agensinya berani untuk membeli lagu mahal pada composer luar untuk mendongkrak musiknya, SM mengizinkan Jonghyun untuk menciptakan music yang dia ingin buat sendiri.

Dia juga tak pernah ragu untuk mengatakan betapa sayangnya ia kepada ibunya, kakaknya, bahkan Roo anjing peliharaannya. Pernah suatu kali saya melihat bahwa wallpaper smartphonenya ialah foto kakaknya, Kim Sodam. Bukankah itu menunjukkan betapa ia mencintai keluarganya?

Disaat orang-orang yang melakukan bunuh diri tidak menulis surat karna mereka sudah merasa “bodo amat dan cuma pengen mati aja” atau disaat orang-orang akan meninggalkan surat berisi penyebab meninggalnya dia dengan menyalahkan orang lain, ia tidak. Sampai akhir ia tetap menyalahkan dirinya sendiri. Ia meninggal dengan tenang. Dengan briket batubara yang dibakar. Bahkan sebelum meninggal Jonghyun memang sudah mendaftarkan dirinya untuk dapat menyumbangkan organ-organ vitalnya untuk orang yang lebih membutuhkan. Ia paham masih banyak orang yang ingin bertahan hidup di dunia yang jahat dan kacau ini.

Dan sampai saat akhir, album Poet Artist keluar, ia masih memberikan rezeki kepada keluarganya. Ia terlalu baik dan sampai kapanpun saya masih bingung memikirkan seseorang yang baik seperti dia harus terluka separah itu akibat depresi yang ia derita. Saya sedih ketika seseorang beranggapan bahwa ia tak bersyukur dengan segala harta yang telah ia miliki. Ketahuilah, depresi lebih sulit dipaparkan daripada itu. Ketahuilah, sebenarnya ia hanya ingin ditolong, ditolong oleh seseorang yang benar-benar tulus.

Lalu kemudian saya memutar sebuah lagu Help dari 10 cm dan itu semakin membuat saya ingin memeluk Jonghyun yang kesepian dan sendirian di dalam sana.


Jonghyun, tenanglah di alam sana. Di atas sana. Tolong selalu lihat anggota SHINee yang masih berjuang untuk kembali menata kehidupan mereka semenjak kepergianmu. Saya harap kamu bahagia dengan apapun jalan yang telah kamu pilih. Kamu telah berjuang dengan keras. Kamu telah bekerja dengan baik. Saya tak akan pernah melupakanmu dan segala music yang telah kamu ciptakan. Saya tak akan lupa seberapa keras saya selalu bertahan ketika mendengar musikmu. Terima kasih, malaikatku, Jonghyun.


Xoxo,

seseorang yang mencintai musikmu, segala karyamu, dan segala yang ada pada dirimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar