Sepertinya langit akan berbahagia. Seseorang manusia yang
sangat baik telah pergi untuk menemani langit yang selalu abu-abu, selalu
kesepian.
SHINee tetap akan terus bersinar, mereka tidak kehilangan
satu member. Member tersebut tetap ada, di atas langit sana. Member itu, Kim
Jonghyun.
Seseorang idol yang mengalami depresi berat, seseorang yang
terlihat selalu tersenyum menghibur semua orang itu akhirnya pernah sekali
melakukan ke”egois”an dalam dirinya untuk pergi dari dunia ini.
Jujur, saya bukan penggemar SHINee, saya hanya tahu beberapa
lagu SHINee yaitu Replay dan Ring Ding Dong. Dan menurut saya
musiknya seru, namun masih terkesan biasa saja buat saya. Karna pada saat itu bias saya hanyalah Yesung seorang. Saat
saya melihat SHINee, saya hanya menghapal dua member di dalamnya, Minho berkat
ketampanannya serta Jonghyun berkat suaranya yang teramat bagus dan wajahnya
yang terkesan bukan seperti wajah orang Korea pada umumnya, terlihat aneh kalau
saya boleh jujur.
Sampai pada tahun 2016, saat saya memutar lagu di youtube
tiba-tiba terputar sebuah lagu Lee Hi yang berjudul Breathe yang membuat saya jatuh cinta dengan musiknya dan lantas
mencari translate lagunya. Apa yang
saya temukan? Arti lagunya membuat saya menangis, sungguh. Ketika kamu melakukan
kesalahan atau melakukan hal-hal bodoh dan gagal dalam hidupmu, ketika kamu
mendengarkan lagu tersebut secara ajaib kamu akan bernapas dan merasa lebih
baik dari sebelumnya. Sungguh.
Lalu kemudian saya menemukan fakta lain, bahwa lagu itu
dibuat oleh seseorang yang tak pernah saya sangka sebelumnya, seseorang yang dari
luar terlihat kuat, lucu, dan blak-blakan.
Ya, seperti yang kita tahu, Jonghyun pengarangnya. Lalu kemudian saya mendengar
lagunya yang berjudul End of The Day, lagu
sama yang membuat saya menangis. Lalu saya mulai mendengarkan albumnya mulai
dari album Base sampai Story Op.1 yang membuat saya makin jatuh
hati terhadap music dan setiap karyanya. Kemudian saya mengetahui bahwa ia sangat
senang sekali membaca, ia menyukai Demian
karya Herman Hesse, metamorphosis karya
Franz Kafka, sampai Dunia Kafka karya
Haruki Murakami. Saya merasa terhubung dengannya. Sangat jarang seorang idol membaca buku dengan segala
kesibukannya. Tapi hal itu sudah Jonghyun lakukan semenjak ia kecil, ia senang
membaca. Kemudian Ia menulis sebuah tweet di twitternya, sebuah puisi yang
membuat saya yakin suatu saat Jonghyun pasti akan menjadi penulis, dan benar ia
mengeluarkan buku yang dia tulis di sela-sela waktu sibuknya. Skeleton Flowers. Sebuah bunga yang
indah ia jadikan perumpamaan dalam bukunya. Dulu, saya pernah bermimpi untuk
membeli buku Jonghyun ketika versi Englishnya
telah rilis dan meminta tanda tangannya saat fansign suatu saat nanti. Namun mimpi tetaplah mimpi, sampai saat
terakhirpun saya tak akan pernah bisa merealisasikan mimpi tersebut. Dia telah
tiada. Terkadang mengingat hal itu membuat leher saya seperti tercekik.
Jonghyun yang selalu menjadi orang yang selalu ada bagi
orang-orang sekitarnya, Bagi Key, bagi Taemin, bagi Minho, bahkan bagi Onew.
Jonghyun sang penulis lagu di Shinee dari mulai Juliette yang saya gemari sampai
View lagu EDM yang membuat saya terpana. Jonghyun yang hatinya selalu lembut,
bayangkan saja ketika pertama kali debut, saat ia turun ia menangis. Ia menangis
memikirkan betapa banyak orang-orang yang membantunya untuk mencapai mimpinya
menjadi seorang penyanyi. Walau yang kutahu cita-citanya adalah menjadi seorang composer.
Dan menurutku ia bisa mencapai cita-citanya untuk menjadi seorang composer berkat
dirinya berkecimpung di dunia idol. Disaat SM
agensinya berani untuk membeli lagu mahal pada composer luar untuk mendongkrak
musiknya, SM mengizinkan Jonghyun untuk menciptakan music yang dia ingin buat
sendiri.
Dia juga tak pernah ragu untuk mengatakan betapa sayangnya
ia kepada ibunya, kakaknya, bahkan Roo anjing peliharaannya. Pernah suatu kali saya melihat bahwa wallpaper smartphonenya ialah foto kakaknya, Kim
Sodam. Bukankah itu menunjukkan betapa ia mencintai keluarganya?
Disaat orang-orang yang melakukan bunuh diri tidak menulis
surat karna mereka sudah merasa “bodo amat dan cuma
pengen mati aja” atau disaat orang-orang akan meninggalkan surat berisi
penyebab meninggalnya dia dengan menyalahkan orang lain, ia tidak. Sampai akhir
ia tetap menyalahkan dirinya sendiri. Ia meninggal dengan tenang. Dengan briket
batubara yang dibakar. Bahkan sebelum meninggal Jonghyun memang sudah
mendaftarkan dirinya untuk dapat menyumbangkan organ-organ vitalnya untuk orang
yang lebih membutuhkan. Ia paham masih banyak orang yang ingin bertahan hidup
di dunia yang jahat dan kacau ini.
Dan sampai saat akhir, album Poet Artist keluar, ia masih memberikan rezeki kepada keluarganya. Ia
terlalu baik dan sampai kapanpun saya masih bingung memikirkan seseorang yang
baik seperti dia harus terluka separah itu akibat depresi yang ia derita. Saya
sedih ketika seseorang beranggapan bahwa ia tak bersyukur dengan segala harta
yang telah ia miliki. Ketahuilah, depresi lebih sulit dipaparkan daripada itu. Ketahuilah,
sebenarnya ia hanya ingin ditolong, ditolong oleh seseorang yang benar-benar
tulus.
Lalu kemudian saya memutar sebuah lagu Help dari 10 cm dan itu semakin membuat saya ingin memeluk Jonghyun yang
kesepian dan sendirian di dalam sana.
Jonghyun, tenanglah di alam sana. Di atas sana. Tolong selalu
lihat anggota SHINee yang masih berjuang untuk kembali menata kehidupan mereka
semenjak kepergianmu. Saya harap kamu bahagia dengan apapun jalan yang telah kamu
pilih. Kamu telah berjuang dengan keras. Kamu telah bekerja dengan baik. Saya tak
akan pernah melupakanmu dan segala music yang telah kamu ciptakan. Saya tak akan
lupa seberapa keras saya selalu bertahan ketika mendengar musikmu. Terima
kasih, malaikatku, Jonghyun.
Xoxo,
seseorang yang mencintai musikmu, segala karyamu, dan segala yang ada pada dirimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar