Jumat, 14 Februari 2014

Malaikat Tanpa Sayap... Bergelar Sahabat :))



                Hari ini, gue kembali mikir, saat orang-orang yang gue kasihi mendadak jauh dari hidup gue. Gue merasa mereka berubah, mengapa mereka berubah jika mereka masih bisa tetap sama? Kenapa? Kadang, pertanyaan itu sering muncul di benak gue. Untuk apa mereka berubah? Kenapa mereka nggak sejalan lagi sama gue? Kenapa mereka nggak seasik dulu? Kenapa mereka nggak mengerti posisi gue?
                Sering banget pertanyaan berkecamuk di kepala gue. Gue mikirin mereka, hari ini apa kabar mereka? Apa mereka baik-baik aja sama cowoknya? Apa mereka punya masalah? Apa mereka rukun sama temen-temennya? Apa mereka udah ngelupain gue?
                Sering banget gue emosi karena gue ngerasa mereka udah berubah. Mereka bedain gue, mereka nggak ngaggep gue. Gue seperti diabaikan. Tapi, kenapa gue nggak coba buat mengerti mereka? Mungkin gue bukan orang yang selalu ngerti. Tapi percayalah, gue selalu berdoa buat malaikat tanpa sayap bergelar sahabat seperti kalian.
                Gue selalu pengen lo ngerti bahwa gue ada dan akan selalu ada. Jangan ragu buat manggil gue. Jangan ragu buat minta tolong sama gue. Karena itulah gunanya sahabat kan? Kita ada untuk saling mengisi dan mengasihi. Gue berharap lo berpikiran yang sama tentang apa yang gue tulis saat ini. Makasih udah mau jadi sahabat seorang pengecut macem gue ini, makasih udah mau jadi sahabat cewek emosian ini. Lo semua tetep the best bagi gue :’)
“Kasih itu emang bukan cuma bilang dia sahabat gue, tapi bilang gue mau berjuang buat bikin dia bahagia.”

Langit mulai cerah, tak bisakah kita terus melangkah?
Yang kubutuh hanya tanganmu yang menopangku
Yang kubutuh hanya kasihmu yang selalu menyertaiku
Sahabat,
Bisakah kau berbalik dan kembali menatapku?
Aku disini, masih, dan masih terus menunggumu
Aku menunggu tawamu
Aku rindu pundakmu
Aku terbelenggu oleh hangatnya rengkuhan yang selalu kau torehkan padaku
Aku rindu saat engkau mengejekku
Aku rindu saat kau masih tetap setia di sampingku
Dan, kini..
Bisakah kau kembali?
Menata hati yang telah kosong setelah kau tinggal pergi

Untuk Malaikat Tanpa Sayap bergelar Sahabat:
Silmi Diena Auliya
Yesita Geradin
Woro Ayuningtyas
Adibah Alfasyanah
Nabila Nurjannah
Agil Tianna
Rushartina Megawati

Sabtu, 08 Februari 2014

Puisi Tentang Kamu...



Sedikit kisah puisi yang gue tulis bersama teman sebangku gue yang bernama Mery Wulandari. Saat semua sibuk bahas soal PM Bahasa Indonesia, gue yang emang lagi boring, iseng nulis puisi. Eh, ojol-ojol Mery malah ikut-ikut nambahin. Tapi gapapalah, puisi yang gue buat jadi tambah hidup. Gue mengucapkan banyak terimakasih kepada sohib sebangku gue, untuk tahun-tahun yang menyenangkan di akhir masa putih abu-abu ini. Gue juga mau bilang terima kasih, buat orang yang ngasih gue inspirasi. Maklum, gini nih nggak enaknya jadi secret admirer gini salah, gitu salah. Mungkin lebih tepatnya cinta bertepuk sebelah tangan *okeiniterlaluhoam* curcol mele hidup gueeee :D langsung aja liat puisinya ya...
Memujamu seperti orang bodoh
Aku memiliki akal ‘tuk tahu itu
Mengharapkanmu seperti orang tolol
Aku bukan pungguk merindukan bulan
Tapi apa yang bisa kucapai?
Tapi tak bisakah kau tengok aku?
Apa yang bisa kuraih?
Yang selalu melihat padamu walau jauh?
Tak sekalipun dirimu melihatku
Bahkan saat aku tersesat di hatimu
Kau abaikan hati ini
Seperti Dandelion yang tertiup angin
Kau acuhkan perasaan ini
Seperti hujan menghapus jejak
Kau buat hatiku tersakiti untuk kesekian kali
Kau hujam hatiku dengan semua tingkah lakumu
Kini, yang kubutuh hanya kembali menata hati
‘Tuk kembali yakin pada cinta yang sejati

Saturday, January 8th 2014
Created by: Rivani Vinola Dewi Sianturi & Mery Wulandari